Senin, 08 Oktober 2012

GUDEG JOGJA

Resep Masakan Gudeg Jogja

Bahan Masakan :
-  3 kaleng nangka muda (young jack fruit)
-  1 kaleng santan
-  800 ml air teh
-  telur rebus secukupnya (ngrebusnya jangan kelamaan, asal padat aja), kuliti
-  tahu putih/tahu kulit (sesuai selera)
-  125 gram gula merah, disisir kasar
-  1 sdm minyak goreng
-  daun salam secukupnya

Bumbu Yang Dihaluskan :
-  6 bawang putih
-  1/2 red onion
-  2 sdt ketumbah
-  3/4 sdt jintan
-  1 sdm garam
-  lengkuas secukupnya
-  1 batang sereh (ambil bagian putihnya)
Sambal Terasi :
-  cabe merah/cabe rawit/cabe kering (tapi direbus dulu) secukupnya
-  garam secukupnya
-  terasi secukupnya
-  gula merah secukupnya
-  tomat secukupnya (digoreng dulu)
Cara Memasak Gudeg Jogja :
1.Nangka disaring dan dicuci bersih, soalnya air pengawetnya bikin rasa asam.
2. Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan gula jawa dan daun salam.
3. Masukkan nangka dan telur rebus, aduk sampai tercampur rata dengan bumbu.
4. Tambahkan santan dan air teh sampai semua nangka dan telur terendam.
5. Tutup panci dan masak dengan api kecil.Jangan sering dibuka, cukup 1/2 jam sekali.
6. Kalo sudah cukup lama coba diicipi sudah sesuai selera apa belum.
7. Masukkan tahu saat air tinggal setengahnya, agar tahu tidak terlalu keras.
8. Masak sampai airnya tinggal sedikit/hampir kering.
9. Siap dihidangkan dan disantap dengan nasi putih hangat dan sambel terasi, atau bisa juga bersama daging empal atau ayam sebagai lauk tambahannya.


Gudeg bagi sebagian orang asli Yogyakarta, yang lahir sebelum era kemerdekaan, seperti Mbah Pawiro Wiyono (75 tahun), petani buta huruf warga Desa Tlogoadi Kecamatan Mlati merupakan lauk pauk yang sudah dikenalnya sejak kecil. Nasi gudeg, demikian ia menyebut makanan tradisional masyarakat Yogyakarta yang terus eksis hingga sekarang. Mbah Pawiro menyebut gudeg sebagai makanan dari gori (nangka muda) yang rasanya manis tapi gurih, karena tambahan bumbu arehnya (santan kental) dan ampas minyak kelapa (klendo) yang lezat. Ditambah lauk pauk lainnya seperti tahu, sambal krecek dan daging ayam. Artinya, lelaki tua ini hanya mengenal gudeg basah. Kalau begitu, kapan orang Yogya mengenal gudeg kering yang relatif lebih awet dan tahan lama?
Gudeg, bukan berasal dari dalam lingkungan Kraton Yogyakarta. Namun merupakan makanan tradisional masyarakat. Gori atau nangka muda, adalah bahan baku utama gudeg yang lebih umum dikenal. Sebab di masa lalu, bahan baku ini sangat mudah diperoleh di kebun-kebun milik masyarakat Yogyakarta. “Walaupun ada pula bahan lainnya seperti manggar (pondoh kelapa), karena dulu batang pohon kelapa kerap dijadikan bahan bangunan dan jumlahnya banyak, tidak seperti sekarang. Selain itu ada pula gudeg dari rebung (anakan pohon bambu), tapi yang ini sekarang amat langka dibuat gudeg. Di jaman dulu orang Yogya hanya mengenal satu jenis gudeg, yakni gudeg basah. Gudeg kering dikenal setelahnya, sekitar 57-an tahun dari saat sekarang ini. Hal ini setelah orang-orang dari luar Yogya mulai membawanya sebagai oleh-oleh.
Keuntungannya, gudeg pun tumbuh sebagai home industry makanan tradisional di Yogya.ketika kami membahas kemungkinan makanan ini merupakan bekal berperang bagi pasukan Sultan Agung saat menyerbu Batavia, ternyata juga tidak tepat dianggap demikian. Apalagi tak ditemukan adanya literatur yang menyebutkan hal ini. Seperti disebut di bagian awal, di masa lalu orang Yogya belum mengenal gudeg kering yang biasa ditaruh di besek atau kendil, serta awet dibawa ke luar kota. “Pada penyerbuan pertama ke Batavia di tahun 1726-1728, pasukan Sultan Agung kalah. Setelah dibahas bersama para penasihat dan panglima perangnya, kekalahan pasukannya karena banyak yang mati dan lelah akibat kelaparan. Kesimpulannya, pasukan mereka butuh beras untuk tetap kuat sampai ke Batavia, ketika menceritakan kembali penyerbuan itu, berdasarkan literatur yang dibacanya. Lalu akhirnya pada penyerbuan pasukan Sultan Agung yang kedua kalinya, dibuatlah daerah-daerah logistik di kawasan Pantura. Dari sinilah muncul wilayah yang disebut Batang, Brebes, Bumiayu dan lainnya, yang menjadi lumbung beras bagi pasukannya. “Soal lauk pauknya apa, ya apa yang dapat dimasak di daerah logistik tersebut. Tidak harus gudeg, apalagi belum ada gudeg kering. Selain itu berdasarkan informasi dari abdi dalem Kraton Yogyakarta yang sudah sepuh, menu gudeg tidak berasal dari dalam istana. Tidak seperti stup jagung, yang memang dari istana karena menjadi klangenan salah satu sultan,” lanjut Herman. Tentu saja penuturan ini bukanlah sebuah akhir dari suatu diskusi tentang sejarah gudeg. Sebab siapa tahu, ada yang dapat menjelaskan lebih baik lagi. Misalnya, mengapa di dekat lingkungan Kraton Yogyakarta (kawasan Benteng di Jln. Wijilan) ada banyak penjual gudeg? Apa kaitannya dengan kraton?
Sekarang penjual gudeg banyak tersebar diseluruh wilayah Indonesia tidak hanya di daerah Yogyakarta yang menjual gudeg. Maka dari itu, kita harus melestarikan makanan tradisional Indonesia, agar tidak diklaim oleh negara lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar